Heuristic & Shortcuts in Inference and Decision Making
Heuristic
& Shortcuts in Inference and Decision Making
1.Pengertian
Heuristik
Heuristics adalah sebuah terobosan yang
sangat berpengaruh untuk membuat suatu penilaian (Kohmen & Tversky,1972).
Heuristik adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan suatu penemuan.
Aturan sederhana untuk membuat keputusan
kompleks menjadi menarik kesimpulan secara cepat & seakan tanpa usaha yang
berarti, atau membuat penilaian yang kompleks dalam kondisi yang tidak sesuai
dengan akurasi atau keakuratan.
Mempersepsi untuk menggunakan
strategi-strategi lengkap untuk siapa. Dengan demikian, pengamat sosial, dalam
banyak situasi, suatu 'pencapaian pribadi membuat kepekaan dan keputusan yang
cukup ini dan bukan sebagai "pengoptimalisasi kesimpulan dan keputusan
terbaik (March& Simon, 1958).
II.
Bentuk Bentuk Heuristik
1. Heuristik Keterwakilan
Suatu
setrategi untuk membuat penilaian berdasarkan pada sejauh mana stimulus atau
peristiwa tesebut mempunyai kemiripan dengan stimulus atau kategori lain
Contoh : Memprediksi pekerjaan seseorang
dilihat dari penampilannya.
• “Seorang wanita, tetangga baru sblh
rumah, berpakaian konservatif, orangnya teratur & rapi, memiliki
perpustakaan besar di rumahnya, & terlihat sangat lembut & sedikit
pemalu.”
• Apakah dia seorang manajer, dokter,
pelayan restoran, pustakawan atau pengacara?
Berdasarkan ciri-cirinya lebih dekat dengan
ciri-ciri profesi pustakawan dibandingkan dengan ciri-ciri dokter, pelayan
restoran maupun pengacara. Penilaian ini menggunakan cara →Heuristik keterwakilan
(menilai berdasarkan kemiripan). Semakin mirip seseorang dengan ciri-ciri
khas orang lain dari suatu kelompok, semakin mungkin dia merupakan bagian dari
kelompok tersebut.
2. Heuristik Ketersediaan
Sebuah strategi untuk membuat keputusan
berdasarkan seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dpt dimunculkan dalam
pikiran kita.Jadi semakin mudah suatu informasi masuk ke dalam pikiran, semakin
besar pengaruhnya terhadap penilaian atau keputusan yang akan dibuat.
Contoh:
• Seorang menjadi takut naik pesawat
terbang, karena seringnya dan digembor2kannya berita mengenai kecelakaan
pesawat terbang. Padahal kemungkinan kecelakaan mobil 100 kali lbh tinggi.
• Seorang manager melakukan penilaian
kinerja, cenderung mengingat perilaku ekstrem atau tidak biasa, ketika dia
tidak dpt mengontrol emosinya & marah pada anda. → hal ini mudah teringat
& terpikirkan.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa
kecenderungan menggunakan heuristik lebih pada mudahnya berfikir subjektif di
mana informasi yg relevanlah yyg langsung diingat
3. Heuristik Simulasi
Untuk memecahkan masalah, orang sering
membuat skenario hipotesis untuk memperkirakan bagaimana sesuatu akan keluar,
yaitu mereka menjalankan peristiwa melalui pikiran mereka secara kronologis
untuk menilai konsekuensi yang mungkin terjadi. Teknik inferensial ini dikenal
sebagai heuristis stimulus.
Menggunakan heutistik ini biasanya
menghasilkan jawaban yang cukup baik dan mungkin sama baiknya dengan yang di hasilkan
oleh analisi yang lebih mendalam dan terinformasi serta yang tersedia untuk
tugas, itu karena relevansi biasanya menjadi kriteria untuk membuat penilaian
probabilitas. Namun ketika heuristik keterwakilan di gunakan seseorang mungkin
tidak peka terhadap faktor faktor lain yang intependent dan relevansi penilaian
yang mempengaruhi probabilitas kejadian yang sebenarnya menurut (Kahneman dan
Tversky,1973)
Anchoring
Saat
membuat penilaian di bawah ketidakpastian, orang kadang-kadang mengurangi
ambiguitas dengan memulai dengan awal mencapai kesimpulan akhir. Jangkar
terkemuka dari mana kami memperkirakan perilaku sosial orang lain dan
lingkungan sosialnya sendiri (misalnya Fong Markus, 1982; Markus Smith, 1981).
kita dapat menilai seberapa agresif atau malu orang lain sebagai inferensi yang
disesuaikan dari penilaian diri sendiri pada kualitas yang sama ini atau
mengadopsi perspektif orang lain dengan menyesuaikan diri dari kita sendiri
(Epley, Keysar, Van Boven,& Gilovich, 2004)
III.Penggunaan Heuristik
1. Kapan Menggunakan Heuristik ?
Orang menggunakan heuristik dalam domain di
mana mereka memiliki banyak praktik dan telah mengembangkan pintasan yang
sebelumnya telah melayani mereka dengan baik. Heuristik memainkan peran penting
baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Ketika kita mencoba
memecahkan masalah atau membuat keputusan, kita sering beralih ke jalan pintas
mental ketika membutuhkan solusi cepat.
2.
Kapan Heuristik Menghasilkan Jawaban yang Salah?
Aturan praktis dari pada model normatif
penyimpulan keadaan yang ada dapat diprediksi di mana kesimpulan pengamat
sosial gagal. proses heuristik yang digunakan oleh pengamat sosial biasanya melibatkan
penggunaan teori atau firasat yang sudah ada sebelumnya untuk memandu
pertimbangan informasi dan interpretasinya.’
3. Mengumpulkan Informasi
Inferensi atau penilaian terkecil dimulai
dengan proses memutuskan informasi apa yang relevan dan mengambil sampel
informasi yang tersedia. Menurut model normatif, pengamat sosial harus
mengambil semua informasi yang relevan, tetapi sebenarnya tekanan efisiensi
sering menghalangi kesempurnaan. Ini mengarah ke cara pintas yang dapat
diandalkan dalam bentuk pengumpulan informasi sesuai dengan teori yang sudah
ada sebelumnya. Memilih data sesuai dengan harapan atau teori yang ada
sebelumnya sangat tepat dalam banyak situasi (lihat Nisbett & Ross, 1980
4. Sampling Information
Pengamat sosial telah memutuskan informasi
apa yang relevan dengan suatu kesimpulan, tugas yang dapat dibiaskan oleh teori
yang sudah ada sebelumnya, data harus diambil sampelnya.Ketika orang-orang
mencirikan informasi dari sampel yang diberikan kepada mereka, keakuratan
mereka dalam memperkirakan frekuensi, proporsi, atau rata-rata cukup baik
selama tidak ada teori atau harapan sebelumnya yang hadir untuk mempengaruhi
perkiraan tersebut.
IV.Regresi
Regresi adalah fenomena yang terkait dengan
prediksi dari probabilistik ke faksi, dan itu kurang dipahami oleh kebanyakan
orang. Regresi mengacu pada fakta bahwa peristiwa ekstrim akan, rata-rata,
menjadi kurang ekstrim ketika ditinjau kembali pada titik waktu yang berbeda.
Pesan regresi adalah bahwa ketika seseorang harus membuat kesimpulan
berdasarkan informasi yang terbatas dan tidak dapat diandalkan, salah satu akan
menjadi paling akurat jika seseorang menggunakan prediksi yang kurang ekstrim daripada
informasi yang menjadi dasarnya.
Dilution
Effect
Ketika informasi diagnostik diencerkan
dengan informasi nondiagnostik, kesimpulan kurang ekstrim, merupakan sebuah
fenomena yang dikenal sebagai dilution efect (Nisbett, Zukier, & Lemley,
1981).
1. The Conjunction Error (Kesalahan
Konjugasi)
Kekeliruan konjungsi adalah kekeliruan
formal yang terjadi Ketika seseorang mengasumsikan bahwa kondisi spesifik lebih
mungkin daripada kondisi umum. Penjelasan yang bersifat menjembatani lebih
mungkin ketika orang-orang diminta untuk menjelaskan suatu peristiwa daripada
jika mereka diminta untuk menyimpulkan interpretasi peristiwa tersebut, Sebagai
contoh, seseorang dapat mengunjungi galeri seni untuk bersantai, untuk menjauh
dari kantor untuk melihat karya seniman yang sangat menarik, untuk menikmati
penemanan seorang teman, dan memiliki adegan, yang semuanya dapat terjadi
secara bersamaan.
2. Intergrating Information
(Mengintergrasikan Informasi)
Intergrating information dalah penggabungan
informasi dari sumber-sumber yang umum dengan kesimpulan sosial, asimilasi
informasi dengan pengetahuan atau harapan sebelumnya. berikut adalah beberapa
intergratif informasi. Tugas membawa informasi bersama dan menggabungkannya
kedalam penilaian bisa menjadi masalah ketika dievaluasi terhadap model
normatif. Seperti dalam tugas-tugas lain dari inferensi sosial, asimilasi
informasi dengan pengetahuan atau harapan sebelumnya sangat umum (Stapel &
Koomen, 2000).
3. Assecing Covariation (Penilaian
Kovarasi)
Mengingat pentingnya kovariat terhadap
tugas penilaian, pertanyaan tentang seberapa baik penginderaan mendeteksi
kovariasi adalah hal yang kritis. Jawabannya tampaknya tidak terlalu baik
(lihat Crocker, 1981; Nisbett & Ross, 1980, untuk ulasan) ketika seseorang
membandingkan perkiraan naïf penerima dengan model statistik normatif untuk
menilai kovariasi (Smedslund, 1963; Ward & Jenkins, 1965, untuk referensi
awal). Selain menyatukan informasi untuk membentuk kesan tentang orang dan
kejadian, kita juga memperhatikan hubungan-hubungan dalam kehidupan sosial.
Dalam melakukan kovariasi, orang cendrung melakukan kekeliruan tertentu. Secara
spesifik, mereka cendrung memandang beberapa hal sebagai saling berhubungan
ketika mereka mengangap bahwa hal-hal itu memang semestinya saling tampak sama.
Jadi, ketiak diduga ada hubungan antara dua variabel, seseorang mungkin akan
terlalu melebihkan keeratan hubungan keduanya atau menganggap keduanya berhubungan
padahal sebenarnya hubungan itu tidak ada. Proses ini dinamakan korelasi semu
(ilusi korelasi).
4.
Illusory Correlation (Illusory Korelasi)
Ilusi yang terjadi apabila menghubungkan dua
hal yang tampaknya berhubungan padahal sebenarnya tidak. Ilusi korelasi (illusory correlation) adalah kecenderungan
menghubungkan antara dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan. Sebagai contoh,
adanya kepercayaan bahwa pasangan yang belum mempunyai anak akan dapat
mempunyai anak setelah mengadopsi anak.
Hal ini sebenamya sama sekali tidak
berhubungan satu sama lain. Pasangan yang terlebih dahulu mengadopsi dapat
memperoleh anak kemungkinan karena berkurangnya kecemasan dan tingkat
stress-nya. Dalam konteks stereotip dan prasangka, ilusi korelasi juga terjadi,
yaitu ketika kita menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan yang
terjadi di antara orang-orang atau situasi tertentu (khusus) dan lebih lanjut
kita anggap berlaku untuk semua anggota suatu kelompok
Daftar
Pustaka
Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (2013).
Social Cognition: From Brains to Culture. Sage.
Moskowitz, G. B. (2005). Social Cognition:
Understanding Self and Others. Guilford Press.
Fiske, S. T. (2018). Social Beings: Core
Motives in Social Psychology. John Wiley & Sons.
Aronson, E., Wilson, T. D., Akert, R. M.,
& Sommers, S. R. (2016). Social Psychology (Ninth Edition).
Heinzen, T., & Goodfriend, W. (2017).
Social Psychology. SAGE Publications.
Komentar
Posting Komentar