Dual Models in Social Cognition

 Dual Models in Social Cognition 





A. Automatic Processes (Proses-Proses Otomatis) 

Automatic (otomatis) adalah suatu kemampuan harus terjadi tanpa tujuan/maksud, tetap berada diluar kesadaran dan tidak dipengaruhi dengan aktivitas mental lainnya. Automaticity adalah salah satu karakteristik proses kognitif dimana komponen perilaku dipraktikan dengan konsisten dan dilakukan dengan cepat, dengan usaha minimal atau dengan alokasi perhatian pada pengolahan stimulus. 

Automatic Processes (proses otomatis) adalah proses paling murni, yaitu tidak disengaja, tidak terkendali, efisien, otonom, dan di luar kesadaran (Bargh, 1997). Proses-proses otomatis adalah proses-proses yang tidak dapat dikendalikan, tanpa disertai niat atau kesiagaan eksternal, yang berlangsung dengan sangat efisien (Solso, 2008) 

Automatic process terjadi ketika seseorang berpengalaman melakukan suatu tugas atau mengolah suatu informasi tertentu yang seakan tanpa perlu usaha yang besar, secara otomatis dan tidak disadari. 

Contohnya: saat pertama kali belajar sepeda, kita memerlukan perhatian khusus dalam mengendarainya. Seiring dengan berkembangnya keahlian bersepeda kita, kita dapat melakukan tugas-tugas lain seperti berbicara sambil bersepeda. Begitu teraktivasi, skema dapat menimbulkan efek perilaku yang otomatis.

Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan fenomena ini, diantaranya adalah memori implisit dan penggunaan prime : 

• Memori implisit adalah memori yan berhubungan dengan pengalaman sebelumnya. Dalam banyak kasus, memori implisit diungkap ketika informasi yang diperoleh sebelumnya memudahkan kinerja dalam tugas dan tidak memerlukan proses mengingat secara sadar terhadap pengalaman-pengalaman tersebut (Solso, 2008). 

• Penggunaan Prime (secara harfiah berarti pemicu) yang mengaktifkan asosiasiasosiasi mental yang berada tepat di bawah ambang kesadaran Seperti arti katanya secara harfia prime sebagai pemicu ingatan kita untuk merecall kembali ingatan kita. Bermula pada era 1970-an, para psikolog kognitif mulai menyelidiki pengaruh kata-kata yang disajikan sekilas terhadap kognisi rekognisi kata-kata lain yang disajikan sesudahnya (Solso, 2008). 


Ciri-ciri Proses Otomatis 

1. Lebih cepat dibandingkan Consciousness Processing 

2. Effortless (tanpa usaha) 

3. No Awareness (tidak ada kesadaran) 

4. Unavoidable. Di-tringger oleh eksternal atau internal stimulus


 Karakteristik Proses Otomatis 

o Pemrosesan otomatis terjadi tanpa ada niat sadar. Dalam eksperimen-eksperimen priming, dampak tejadi tanpa adanya niat atau tujuan dasar dari partisipan penelitian. Kata pemicu atau prime ini ditayangkan dengan sangat cepat sehingga partisipan tidak menyadarinya.

 o Pemrosesan otomatis tersembunyi dari kesadaran. Sebagaimana ditunjukkan dampak-dampak priming sebagian besar tidak disadari. Kita tidak “berpikir” mengenai pemrosesan otomatis. 

o Pemrosesan otomatis menggunakan hanya sedikit sumber daya (atau bahkan tidak menggunakan sumber daya sadar sama sekali). 


Pemaknaan Subliminal

 Pemaknaan subliminal terjadi saat konsep diaktifkan oleh lingkungan, namun pada saat-saat paparan di bawah kesadaran sadar. Perasaan subliminal emosi tampak bisa diandalkan Bargh dkk. (1996), selain dengan cepat menghadirkan wajah tersenyum dan mengerutkan kening yang kemudian disukai oleh ideograf China, yang sebaliknya netral dan tanpa makna bagi peserta penelitian (misalnya, Murphy, Monahan, & Zajonc, 1995). 

Pemaknaan subliminal tidak terbatas pada efek emosional yang signifikan; Konsep netral emosional juga bisa prima di bawah kesadaran (Dijksterhuis, 2004; Nosek, Hawkins, & Frazier, 2012, Payne, 2012). Perhatian konseptual yang tidak terutama afektif cenderung melibatkan sistem otak yang terutama terlibat dalam pencocokan pola, pengkategorian, dan proses identifikasi yang melibatkan korteks temporal inferior (Lieberman et al., 2002).

Kesimpulan tentang otomatis Seperti yang telah kita lihat sejauh ini, tanggapan otomatis berbeda dalam derajat. Beberapa pengkodean terjadi secara otonom, di bawah kesadaran, dalam persepsi subliminal atau preconscious. Proses pascabencana ditiru oleh prime sadar dan dapat berjalan dengan cepat, tanpa maksud, atau kesadaran. Praktik nampaknya menjadi elemen penting dalam mengembangkan tanggapan otomatis, karena penelitian tentang proses prosedural menunjukkan. Beberapa jenis penilaian tampaknya sangat mungkin otomatis. 


B. Controlled Processes

 Controlled processes (Proses terkendali) adalah proses yang berada di bawah kontrol individu yang fleksibel dan disengaja, yang secara sadar disadarinya, dan itu mudah dilakukan dan dibatasi oleh jumlah sumber daya attentional atau sebuah pemrosesan yang kita lakukan secara sadar, dengan kata lain, kerika kita membutuhkan perhatian saat mengerjakan sebuah tugas, kita akan menjadi aware dan sadar saat melakukan tugas tersebut. 

Controlled Processes menghabiskan banyak sumber atensi, yaitu cara-cara kita secara aktif memproses sejumblah informasi yang terbatas dari sejumblah besar informasi yang di sediakan oleh indra, memori yang tersimpan, dan oleh proses proses kognitif kita yang lain 


Ciri-ciri Controlled Processes 

✓ Mensyaratkan upaya-upaya yang sifatnya intensional. 

✓ Mensyaratkan sepenuhnya kesadaran dari alam sadar. 

✓ Menghabiskan banyak sumber daya atensi. 

✓ Dilakukan secara berkala dan berurutan.

 ✓ Pengambilan keputusan menghabiskan waktu jika dibandingkan dengan proses otomatis.

 ✓ Tugas-tugas baru yang belum pernah dilakukan atau tugas dengan banyak ciri yang berubah-ubah. 


Proses Otomatis Berdasarkan Tujuan

 Proses ini adalah proses yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu berdasarkan tujuan yang kita miliki. Dan proses ini merupakan proses otomatis. 


Intention (Tujuan) 

Intention dapat diartikan sebagai sebuah mekanisme mental yang menjelaskan perilaku yang dilakukan oleh individu karena individu tersebut memiliki maksud dan tujuan yang ingin mereka capai sehingga berperilaku tersebut.

 Proses Terkendali  Kebiasaan  Proses otomatis

 


Conscious Will

Conscious will menurut bahasa adalah sebuah keinginan yang terbentuk secara sadar. Dapat berupa sebuah bayangan yang dibuat oleh seseorang sebelum mereka melakukan sesuatu (Wegner,2003). 


Consciousness

 Consciousness menurut William James adalah “Aliran Pikiran” atau dalam Bahasa inggris adalah “Stream of Thought”. Namun ada ahli yang menganggap bahwa kesadaran itu adalah bagian eksekutif yang bertanggung jawab terhadap intention atau tujuan seseorang secara sadar. (Postner & Rotbarth 2007). 


Kind of Thoughts 

• Stimulus Dependent Thoughts : Pemikiran yang fokus pada lingkungan sekitar 

• Stimulus Independent Thoughts : membayangkan sesuatu (mind wandering) 

• Operant Thoughts : Problem solving, melakukan hal-hal terkait dengan lingkungan (mirip stimulus dependent) 

• Respondent Thoughts : Daydreaming, melamun, dll. (mirip stimulus independent thoughts)



C. Motivasi Pengaruh Model yang Beroperasi 

Jika mode utama kognisi sosial adalah pikiran otomatis dan tidak sadar versus pikiran sadar dan terkontrol, dengan gradasi di antara mereka, bagaimana orang berpindah di antara mode? Seperti metafora taktik termotivasi, taktik orang (mode yang mereka gunakan) bergantung pada motif mereka. Dalam kognisi sosial, berbagai motif penting selama beberapa dekade terakhir. Mereka menggunakan berbagai nama, namun lima istilah menangkap motif yang paling sering: keberadaan, memahami, mengendalikan, meningkatkan diri, dan mempercayai kelompok (S.T. Fiske, 2010).


a. Keberadaan (Belonging) 

Belonging secara bahasa memiliki arti utama yaitu milik, namun jika konteksnya adalah sosial, maka belong berarti keberadaan. Dimana ia ingin dianggap berada dalam suatu kelompok sosial tertentu. 

b. Pemahaman (Understanding) Berbagi pandangan secara sosial, artinya adalah saling mengerti pandangan masing masing orang dalam suatu kelompok tertentu. Dengan mengerti pandangan orang lain, kita dapat memahami apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka lihat dalam perspektif mereka. Manusiabutuh untuk saling berbagi apa yang mereka rasakan dengan yang lainnya. 

c. Pengendalian Mengendalikan seseorang untuk mencapai hasil yang ia inginkan. Kebutuhan ini biasanya dimiliki oleh orang yang mempunyai “POWER” atau “PENGARUH” terhadap orang lain untuk mendapat hasil yang ia inginkan.

d. Peningkatan Diri Dalam meningkatkan diri, seseorang dapat melakukan Positive Self Viewing. Dimana orang akan termotivasi untuk bergabung dengan kelompok sosial tertentu. 

e. Mempercayai Kelompoknya Ketika seseorang diminta untuk menilai rekan dalam kelompoknya, orang tersebut cenderung memberikan penilaian baik terhadap rekannya tersebut. Dan jika ada penilaian buruk, makan orang tersebut jarang akan menilai rekannya dengan nilai yang sangat buruk, ia cenderung menilai yang dekat dengan titik normal karena mereka sudah berada dalam 1 kelompok yang sama


Model Proses Otomatis dan Terkontrol 

Melalui kognisi sosial, orang bisa memahami dirinya sendiri dengan satu sama lain dengan cara yang lebih dan kurang bijaksana, tergantung pada situasinya. Ketika mereka melakukan apa itu, keadaan yang membimbing pemrosesan yang lebih otomatis atau lebih terkontrol menyangkut lusinan teori dalam kognisi sosial.


Contoh Persepsi Orang 

Jika orang tersebut relevan, dan penglihatan cukup terlihat, orang mempersonalisasikan yang lain menggunakan konsep yang disesuaikan secara individual dalam jaringan memori. Jika tidak cukup terlihat, pengamat pertama – tama mengkategorikan, menggunakan gambar, kecuali jika kategorinya sesuai buruk. Dalam hal ini, mereka individual, menggunakan subtipe atau contoh. Pembentukan kesan sudut pandang alternatif bukan sebagai rangkaian cabang menjadi jenis pemrosesan yang berbeda namun seiring kontinum yang terus berlanjut. Dalam pandangan ini, orang terlibat dalam rangkaian pengelompokan mulai dari proses berbasis kategori paling otomatis hingga proses pembentukan kesan sedikit demi sedikit yang disengaja. Dalam model formasi kesan kontinum ini, seseorang dapat menentukan konfigurasi informasi dan motivatisme yang memindahkan orang dari satu dan kontinu ke yang lain. Jika konfirmasi kategori gagal, orang melakukan rekategorisasi. Mereka menghasilkan kategori, subkategori, teladan atau referensi diri baru yang lebih baik. Akhirnya, bila tidak mudah untuk recatogorize, orang procced sedikit demi sedikit, atribut oleh atribut, melalui data 


Contoh dalam Atribusi

Orang – orang menggunakan bentuk penalaran kausal yang lebih banyak dan kurang otomatis. Misalnya, berbicara dengan ragu – ragu, menghindari kontak mata. Dalam model dual proses atribusi yang terlalu percaya diri, orang pertama secara otomatis dan tanpa mudah mengidentifikasi perilaku, dibantu oleh konteks. Karena banyak perilaku yang ambigu, tahap identifikasi merupakan langkah awal neceassary. Selanjutnya orang lebih sengaja menjelaskan perilaku gugup, sekarang mengurangkan situasinya untuk menyimpulkan disposisi orang tersebut. 


Kontrol Otomatisitas di Lainnya untuk Daerah: Diri, Prasangka 

Dalam memikirkan diri sendiri, orang terkadang bereaksi dengan cepat, berdasarkan skema diri, dan pada saat lain meninjau kembali bukti yang relevan secara pribadi dengan lebih hati – hati. Contohnya banyak orang dengan segera menerima umpan balik positif namun banyak yang memikirkan konsistensinya. Dalam memikirkan orang luar juga, orang – orang berayun di antara dua ekstrem: prasangka yang relatif otomatis, dikondisikan secara kultural dan sudut pandang yang di kontrol dan di kontrol secara lebih ketat. 


PERBANDINGAN KARAKTERISTIK PROSES OTOMATIS DENGAN PROSES TERKONTROL 

 


Proses Informasi Ganda

 Perbedaan antara penggunaan skema secara heuristis dan cepat dan konstruksi inferensi secara sistematis dan cermat mengilustrasikan isu penting dalam psikologi sosial: orang secara kualitatif berbeda dalam cara mereka membentuk inferensi. Hal ini dinamakan dengan dual process model (proses model ganda). Menurut model ini, orang mungkin memproses informasi secara cepat dengan menggunakan skema atau dengan lebih mendalam secara kognitif, sistematis, dengan menggunakan lebih banyak bukti dalam situasi spesifik.

 a) Dependensi Hasil : Salah satu kondisi yang membuat kita tak terlalu sering menggunakan skema dan lebih memerhatikan informasi adalah dependensi hasil.

b) Akuntabilitas : Akuntabilitas atau kebutuhan akan akurasi adalah kondisi lain yang menyebabkan orang lebih banyak memerhatikan data dan tidak terlalu memerhatikan skema 

c) Tekanan waktu : Di sisi lain, ada kecenderungan pengguanaan skema dengan lebih hati-hati ketimbang dengan mempertimbangkan data. Misalnya, ketika kita akan mengambil keputusan dalam tekanan waktu maka kita akan lebih banyak menggunakan skema yang kita punya. 


Daftar Pustaka

 Utama: 

Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (2013). Social Cognition: From Brains to Culture. Sage. 

Moskowitz, G. B. (2005). Social Cognition: Understanding Self and Others. Guilford Press. 

Pendukung:

 Fiske, S. T. (2018). Social Beings: Core Motives in Social Psychology. John Wiley & Sons. Aronson, E., Wilson, T. D., Akert, R. M., & Sommers, S. R. (2016).

Social Psychology (Ninth Edition). Heinzen, T., & Goodfriend, W. (2017). Social Psychology. SAGE Publications.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pseudobulbar

Informasi Calon Penerima BSU 2021

Heuristic & Shortcuts in Inference and Decision Making