Accuracy &Efficiency in Sosial Inference
Accuracy &Efficiency in Sosial Inference
Tentang konsep-konsep dasar kognisi sosial, konsep hubungan antara
individu dengan orang lain dan lingkungannya, bagaimana individu memahami
konteks sosial dan lingkungannya, hubungan antara kognisi sosial dan afeksi,
dan hubungan antara kognisi sosial dengan perilaku.
I. Accuracy & Efficiency in Social Inference
A. Akurasi dan Efisiensi dalam Inferensi Sosial
Inferensi sosial atau penarikan kesimpulan adalah bagaian dari topik
pembahasan sosial cognition (kognisi sosial) yang melihat dan memperoleh
informasi dari kondisi lingkungan yang ada. Proses disimpulkan dari pengamatan
yang disebut penalaran induktif. Kesimpulannya mungkin benar atau salah, atau
benar dalam tingkat tertentu akurasi, atau yang benar dalam situasi tertentu.
Gagasan bahwa Proses Inferential manusia biasanya sadar, rasional,
menyeluruh, logis, dan akurat secara luas diadakan di awal penelitian kognisi
sosial. Keyakinan ini bertentangan untuk dipegang sampai tingkat tertentu dalam
beberapa ilmu perilaku, meskipun bukti yang dapat dibuktikan bahwa asumsi ini
tidak benar. mengapa asumsi rasionalitas menjadi landasan penelitian kognisi
sosial? salah satu alasannya adalah bahwa penelitian tentang penyimpulan pada
umumnya mengasumsikan secara implisit atau exprisit bahwa kesimpulan diarahkan
pada tujuan artinya, mereka dibuat untuk mencapai suatu tujuan.
Model normatif untuk membuat penilaian dan pilihan dikenal secara
kolektif sebagai teori keputusan perilaku, dan yang menentang prinsip-prinsip
teori keputusan perilaku yang kesimpulan sosial biasanya telah dibandingkan
(E.g,. Einhorn & Hogarth, 1981; Hasty & Dawes, 2001) Inferensi sosial
diperoleh melalui:
✓ Pengumpulan informasi
✓ Memilih informasi
✓ Mengintegrasi informasi ke dalam
penilaian Accuracy &Efficiency in Sosial Inference
Kesalahan dan Bias Sebagai Konsekuensi : Meningkatkan Proses
Sosial Inferensi
Dalam beberapa keadaan, strategi inferensial yang keliru memiliki
konsekuensi yang berat. kontribusi kesalahan inferensial terhadap pengembangan
dan pemeliharaan stereotip yang merendahkan adalah salah satu contoh yang
mencolok, pengambilan keputusan kelompok menunjukkan bias yang jelas dalam pengumpulan
informasi dan persepsi tentang diri sendiri dan posisi orang lain, menunjukkan
bahwa kesalahan yang parah dapat menandai kontradiksi sosial yang terjadi
secara alamiah (Janis, 1989). Singkatnya, bias dalam proses inferetial sering
kali penting, dan dengan sendirinya, metode untuk mendeteksi dan mengoreksi
kesimpulan bias diperlukan.
Haruskah kita beralih ke
komputer?
Kekurangan inferensiensial seseorang sangat baik digambarkan ketika
dia dicocokkan dengan komputer yang diberikan informasi yang sama. Komputer
selalu berfungsi dengan baik atau lebih baik (Dawes, Faust, & Meehl, 1989).
Hanya saja, mengubah masalah ke komputer tidak selalu realistis. Cara potensial
kedua untuk meningkatkan proses inferensi pada umumnya adalah melalui
pendidikan, dengan mengajarkan penalaran dalam kurikulum pendidikan formal.
Kesalahan Inferensial yang
Tidak Penting atau Mengoreksi Diri?
Beberapa kesalahan yang
dihasilkan oleh proses inferensial yang salah tidak akan menjadi masalah.
Misalnya, jika pandangan bias seseorang tidak akan memengaruhi perilaku masa
depan seseorang, maka kesalahan tersebut tidak menjadi penting. Beberapa
strategi intuitif relatif kuat terhadap kesalahan tertentu, dan dalam kasus
lain satu kekurangan dapat membatalkan yang lain (Nisbett & Ross, 1980).
Singkatnya, meskipun tugas inferensial di laboratorium sering
memberikan penggambaran dramatis dari kecenderungan manusia untuk kesalahan dan
bias, dalam kesalahan dunia nyata dan bias mungkin kurang penting. strategi
heuristik manusia sering mendekati statistik dan normatif lainnya (Griffiths
& Tenenbeun, 2006).
Error and Bias in Social
Inference
Kesalahan dan bias tidak menciptakan kondisi dimana ketika menilai
seseorang di dunia nyata tanpa tau aslinya dapat membuat orang tersebut
terlihat lebih buruk dari sebenarnya.
o Ekspektasi yang sudah ada sebelumnya Ada dugaan awal di benak
seseorang. Jika dugaan tidak terbukti ada kemungkinan hasil akan terabaikan
hingga timbul bias.
o Ekspetasi salah Pengamatan sosial gagal mengenali ekspektasi yang
sudah ada. Ekspektasi itu bermasalah apabila lebih dominan ketimbang
pertimbangan informasi lainnya. Mengintegrasi informasi proses ini menyatukan
informasi dan mengombinasikannya menjadi sebuah bentuk penilaian sosial
Kesalahan Perencanaan
Tindakan
Kesalahan perencanaan menunjukkan bahwa orang sering
melebih-lebihkan kecepatan dan menggampangkan penyelesaian suatu tujuan dan
meremehkan waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Are Rapid Judgement
Sometimes Better Than Thoughtfully Considered Ones?
Di awal penelitian kognisi sosial, kesimpulan berdasarkan heuristik
dianggap cacat, posisi yang memberi jalan untuk pengamatan bahwa, untuk
memenuhi efisiensi untuk akurasi dan jauh lebih unggul untuk memenuhi kebutuhan
efisiensi. Pandangan yang lebih radikal mulai diterima pada saat ini: yaitu,
setidaknya dalam beberapa keadaan, keputusan berdasarkan heuristik yang cepat
dapat mengarah pada kesimpulan yang lebih unggul dibandingkan dengan upaya
sadar.
Buku yg terkenal, Blink, dari Malcolm Gladwell (2005),mengacu pada
contoh-contoh menarik dari psikologi sosial untuk membuat kasus bahwa, untuk
banyak keputusan atau pilihan yang rumit, otak melakukan serangkaian
perhitungan cepat yang mengarah pada penilaian instan dan sering benar. Sebagai
contoh, sejarawan seni yang sangat berpengetahuan mengevaluasi kouros adalah
palsu, meskipun tidak satupun dari mereka bisa mengartikulasikan mengapa.
Penelitian juga melihat masalah ini dengan cara lain dan menunjukkan
bahwa ketika orang-orang secara aktif beralasan tentang pilihan atau keputusan
mereka, mereka kadang-kadang membuat yang lebih buruk. misalnya, jika seseorang
mencoba memutuskan apakah akan mengambil pekerjaan musim panas tertentu atau
memilih jurusan tertentu, strategi yang jelas mungkin untuk mengevaluasi
masing-masing dari berbagai aspek keputusan dan menganalisis bukti seseorang
untuk pro dan kontra dari setiap alternatif lain.Meskipun daya tarik intuitif
dari strategi semacam itu, sebenarnya mengurangi hubungan antara inferensi dan
perilaku.
Wilson & Hodges (1992) menemukan bahwa introspeksi tentang alasan
seseorang menyukai atau tidak suka beberapa objek memiliki efek mengganggu pada
kesan seseorang dan mengurangi pengaruh tayangan tersebut pada keputusan
berikutnya. pada dasarnya, menganalisis alasan yang mendasari kesimpulan
seseorang sebenarnya menyebabkan kesimpulannya sendiri berubah sementara
(Wilson, Hodges, & LaFleur, 1995; Wilson & LaFleur, 1995).
Alasan ini terjadi mungkin bahwa orang pada umumnya tidak banyak
berpikir tentang kesimpulan mereka; ketika mereka didorong untuk melakukannya,
mereka fokus pada aspek-aspek tertentu dari kesimpulan, dan aspek-aspek itu
menjadi lebih menonjol. dalam melakukannya, mereka mungkin gagal membedakan
yang penting dari informasi yang tidak penting atau memahami dengan tepat
relevansi informasi tertentu; hasilnya adalah kualitas keputusan yang lebih
buruk (Tordesillas & Chaiken, 1999). Oleh karena itu, penalaran dapat
menyebabkan peningkatan inkonsistensi dalam dampak yang dihasilkan oleh
kesimpulan pada penilaian dan keputusan lain.
Neuroeconomics
Neuroeconomics, merupakan wawasan dari tiga ilmu, yaitu: ilmu
ekonomi, neuroscience, dan psikologi (Glimcher 2003. Glimcher & Rustichini,
2004) dengan cara memperjelas ketepatan-efisiensi tradeoff dan peran inferensi
motivasi. Menggunakan model utilitas, untuk menghasilkan prediksi tentang
bagaimana inferensi harus dilanjutkan dan daerah otak apa yang mungkin terlibat
(seperti daerah otak yang terlibat dalam input afektif atau pemrosesan
otomatis) (Sanfey, Loewenstein, McClure, & Cohen, 2006).
Kegunaan neuroeconomics untuk kognisi sosial berasal dari potensinya
untuk memberikan perspektif teoritis yang menyatukan mengenai proses dinamis di
mana otak mengkoordinasikan berbagai sistem saraf untuk melakukan tugas-tugas
kompleks yang terlibat dalam penyimpulan. Kegunaan dari teori utilitas yang
diharapkan yaitu menyediakan model normatif yang juga menghasilkan pedoman
untuk memprediksi dan menafsirkan aktivitas daerah otak yang tidak diperhatikan
selama tugas-tugas inferensi sosial. Sudut pandang ini melibatkan imbalan
langsung secara aktif melibatkan ventral striatum serta daerah medial dan
orbitofrontal, seperti inervasi dopaminergik dan terkait dengan evaluasi
penghargaan (Sanfey at al., 2006).
Penelitian dalam neuroeconomics menyoroti fakta bahwa pengambilan
keputusan melibatkan interaksi beberapa subsistem diatur oleh parameter yang
berbeda dan prinsip yang mungkin berbeda, tetapi juga menyediakan metodologi
untuk memahami apa subsistem yang berbeda ini dan dengan parameter dan prinsip
apa yang mungkin mereka pimpin.
Daftar Pustaka
Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (2013). Social Cognition: From
Brains to Culture. Sage.
Moskowitz, G. B. (2005). Social Cognition: Understanding Self and
Others. Guilford Press.
Fiske, S. T. (2018). Social Beings: Core Motives in Social
Psychology. John Wiley & Sons.
Aronson, E., Wilson, T. D., Akert, R. M., & Sommers, S. R.
(2016). Social Psychology (Ninth Edition).
Komentar
Posting Komentar