FROM AFFECT TO SOCIAL COGNITION
FROM AFFECT TO SOCIAL COGNITION
“Persepsi dan harapan masyarakat dapat menghasilkan bias positif, orang-orang pada umumnya juga menilai orang lain dan hidup mereka sendiri sebagai orang yang cukup positif (Parducci, 1968; Sears, 1983);
Penelitian telah meneliti efek suasana hati pada kognisi dan perilaku sosial, emosi yang intens telah memainkan peran yang lebih rendah dalam penelitian.Eksperimen yang meneliti efek-efek ini biasanya menggunakan manipulasi suasana hati yang relative kecil.Hal ini dapat mempengaruhi emosi yang nantinya dapat mempengaruhi bagaimana kita bersikap, berfikir, dan membuat keputusan.
A. Mood and Helping
Suasana hati yang baik akan menuntun orang membantu orang lain.Suasana hati dapat mengubah fokus perhatian seseorang seperti fokus pada diri sendiri atau orang lain.Orang-orang dalam suasana hati yang positif akan mendorong obigasi untuk membantu terutama jika permintaan itu menekankan imbalan membantu daripada kesalahan.
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa orang dapat ditempatkan dalam suasana hati yang baik dengan meningkatkan pandangan sosial mereka.Akhirnya, orang yang peduli dengan pemeliharaan suasana hati, jadi orang-orang yang ceria cenderung tidak membantu jika itu akan merusak suasana hati mereka.
B. Mood and Memory
Suasana hati hadir memiliki efek penting pada ingatan untuk pengalaman masa lalu. Fenomena penting dalam beberapa pengalaman masa lalu lainnya menjadi kompeten, baik, dan saya telah membentuk inti penelitian tentang suasana hati dan ingatan: ingatan mood-kongruen dan memori yang tergantung pada suasana hati.
Kenangan atau peristiwa yang muncul dipikiran pada saat yang sama seperti emosi yang diberikan terkait emosi itu sendiri, dan karenanya (secara tidak langsung) dapat menyambar ke emosi atau kenangan lainnya.
C. Mood and Judgment
Emosi secara umum mempengaruhi berbagai penilaian dalam pengambilan keputusan.Suasana hati dan penilaian adalah menentukan efek rangsangan moodincongruent (mood tidak selaras). Sebagai contoh, stimulus mood- incongruent dapat mengganggu pemrosesan informasi, menyebabkan orang untuk mengevaluasi orang lain melalui jalan pintas.
Menurut Lazarus (1991) terdapat dua aktivitas kognisi :
• Knowledge : Memahami bagaimana suatu peristiwa terjadi baik secara umum maupun konteks spesifik.
• Appraisal : Penilaian kognitif yang terkait dengan kebutuhan, keinganan yang individu miliki dalam hubungannya dengan peristiwa tertentu. Penilaian kognitif ini disebut juga sebagai pemaknaan personal.
Setelah appraisal terjadi, akan timbul berbagai macam emosi dari inidividu akibat dari penilaian terhadap situasi tersebut. Kesimpulannya adalah situasi yang sama dapat menimbulkan emosi yang berbeda bagi tiap individu., itu tergantung dari penilaian kognitif masing-masing individu.
D. Mood and Decision Making Style
Suasana hati atau mood tidak hanya mempengaruhi apa yang kita ingat dan seberapa positif kita mengevaluasi dunia kita tetapi juga mempengaruhi cara kita membuat penilaian.
1. Happy People
Cepat membuat keputusan, cepat dalam mengerjakan tugas yang sederhana, memiliki asosiasi yang lebih longgar dan kurang terorganisasi, mengeluarkan kata-kata yang positif, dikaitkan dengan faktor- faktor yang kondusif untuk kreativitas, cepat merasa puas, penilaian heuristic, terlalu cepat mengambil keputusan, sehingga dapat menyesatkan.
2. Sad People
Lebih berhati-hati dan mempertimbangkan kembali keputusan, lebih memperhatikan hal-hal yg detail dan dapat pula melakukan diskriminasi.
E. Mood and Persuasion
Sebagian besar penelitian tentang mood atau suasana hati dan persuasi pada awalnya dilakukan dibawah paradigma pengkondisian klasik tetapi penelitian selanjutnya telah menyarankan beberapa peran untuk proses kognitif. Orang-orang yang ceria lebih sesuai untuk komunikasi yang persuasif Mood positif itu sendiri dapat mengganggu dan mengurangi kapasitas kognitif Mood dapat merangkum berbagai efek suasana hati pada ingatan, penilaian, gaya pengambilan keputusan, dan persuasi
F. Mood Congruent
Mood congruence ialah keselarasan suasana hati antara suasana hati positif dan negatif.dalam banyak keadaan, orang lebih mudah mengingat hal-hal yang sesuai dengan keadaan suasana hati mereka saat ini. dalam satu penelitian, suasana hati ditentukan oleh sesuatu yang dipilih menjadi menyenangkan dan tidak menyenangkan (Ehrlichman & Halpern, 1988). Pengaruh emosi terhadap memori dapat dikelompokan menjadi 2 bagian :
1. Kesesuaian dengan Suasana Hati
Kesesuaian dengan suasana hati menggambarkan bahwa seseorang lebih mampu mengingat informasi yang cocok dengan keadaan emosinya pada saat mempelajari suatu hal.Seperti, seseorang yang sedang senang cenderung lebih mudah mengingat suatu hal yang bersifat menyenangkan daripada hal yang menyedihkan begitupun sebaliknya.
2. Ketergantungan dengan Kondisi Suasana Hati
Apabila suasana hati sewaktu penyandian informasi cocok dengan suasana hati sewaktu mengingat kembali informasi tersebut, maka kinerja memori akan lebih baik. Ketergantungan dengan suasana hati merupakan salah satu contoh kekhususan penyandian (encoding specificity). Menurut (Matlin, 1998) kemampuan mengingat kembali informasi (recall) akan lebih baik apabila konteks pengambilan informasi (retrieval) sama dengan konteks penyandian.
III. TEORI PENGARUH EMOSI TERHADAP MEMORI
A. Teori Skema
Menurut Aaron T.Beck menyatakan bahwa saat orang dalam keadaan emosi tertentu akan mempunyai skema yang sesuai dengan emosi tersebut. Artinya, seseorang yang dalam keadaan sedih akan memiliki skema yang mendorongnya untuk mengambil kembali memori-memori yang mengandung kesedihan.
B. Teori Neuropsikologis
Teori ini menjelaskan bahwa seseorang dalam keadaan emosi netral akan memiliki cukup dopamin. Jika seseorang dalam keadan emosi positif makan akan dibarengi dnegan peningkatan dopamin dalam sistem mesokortiko-limbik. Peningkatan dopamin ini akan mempengaruhi peningkatan kinerja berbagai tugas kognitif termasuk juga memori.
IV. AFEKSI DAN KOGNISI
Perasaan kita dan suasana hati memiliki pengaruh kuat terhadap beberapa aspek kognisi dan kognisi juga berperan kuat pada perasaan dan suasana hati kita.Suasana hati saat ini dapat secara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsang yang baru pertama kali kita temui. Pandangan sistem yang terpisah menunjukkan bahwa proses afektif (mempengaruhi) dan kognitif berjalan di jalur paralel tanpa mempengaruhi satu sama lain. Proses afektif dikatakan terjadi pada tingkat yang lebih mendasar daripada proses kognitif dalam beberapa hal (Zajonc, 1980b).
THE SEPARATE SYSTEMS VIEW
1. Reaksi afektif adalah yang utama
2. Reaksi afektif tidak bisa dihindari
3. Afek adalah hal dasar
4. Reaksi afektif cenderung tidak dapat dibatalkan
5. Afek berimplikasi pada diri sendiri
6. Penilaian afektif sulit untuk diungkapkan secara lisan
7. Reaksi afektif mungkin tidak bergantung pada kognisi
8. Reaksi afektif dapat dipisahkan dari konten pengetahuan
V. BUKTI PENELITIAN
1. Bukti dari Penelitian Belaka
Semakin sering orang terpapar dengan stimulus dan semakin mereka menyukai nya dan efek ini bereplikasi secara konsisten. Misal nya orang akan lebih menyukai nada yang sering didengar secara konsisten (W.R. Wilson, 1979). Proses afektif lebih daripada kognitif yang mendasari efek pemaparan Perseptual, stimulus lebih mudah diproses setelah pemaparan awal
2. Bukti dari Persepsi Orang, Atribusi, dan Penelitian Sikap
Macam-macam variabel afektif independen dari variabel kognitif yang tampaknya berkaitan. Contoh: kesan evaluatif (salah satu macam afeksi) yang dapat terlepas dari memori untuk detail yg menjadi dasarnya (salah satu macam kognisi yg relevan). Ini terjadi ketika kesan dibuat secara langsung saat pertemuan awal.
Hal ini berarti menunjukkan bahwa reaksi afektif lebih baik dicirikan sbg tanggapan langsung.Afeksi mungkin memiliki keunggulan dalam penilaian evaluatif meskipun hal ini mungkin sangat benar pada sikap yg ekstrem.
Ketika membentuk kesan terhadap seseorang di pesta, respon afektif mungkin terjadi secara terpisah yang kemudian untuk mengingat detail tentang orang tersebut.Dalam hal ini, kesan mereka dibentuk berdasarkan memori bukan data.Penilaian afektif tidak selalu didasarkan pada kognisi yg dapat diingat; sebaliknya mereka sering didasarkan pada evaluasi yg dibentuk secara langsung.
VI. RINGKASAN
Sejumlah besar penelitian telah mempertimbangkan pada kognisi dan sebagian, pengaruh dari mood.Penelitian menemukan efek yg jelas bahkan dari manipulasi mood yg kecil pada berbagai proses kognitif.
Efek pada mood yg positif lebih jelas daripada efek pada mood yg negatif pada umumnya. Mood yg positif menunjuk kepada perilaku prososial.Orang yg dalam mood yg negatif mungkin atau tidak mungkin menolong, tergantung kepada situasinya.
Biasanya mood meningkatkan memory orang untuk material kongruensi mood karena keduanya proses otomatis dan proses kontrol
Pada umumnya mood mempengaruhi penilaian dalam sebuah arah kongruensi mood dengan baik.
Daftar Pustaka
Utama:
Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (2013). Social Cognition: From Brains to Culture. Sage.
Moskowitz, G. B. (2005). Social Cognition: Understanding Self and Others. Guilford Press.
Pendukung:
Fiske, S. T. (2018). Social Beings: Core Motives in Social Psychology. John Wiley & Sons.
Aronson, E., Wilson, T. D., Akert, R. M., & Sommers, S. R. (2016). Social Psychology (Ninth Edition).
Heinzen, T., & Goodfriend, W. (2017). Social Psychology. SAGE Publications.
Komentar
Posting Komentar